Gubernur Koster Pimpin Gelar Agung Pecalang Bali, Tegaskan Komitmen Jaga Bali Aman dari Aksi Anarkis
Inews Denpasar- Ribuan pecalang dari seluruh kabupaten dan kota di Bali tumpah ruah memenuhi Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Senin pagi. Dengan mengenakan pakaian adat dan penuh wibawa, para penjaga adat Bali itu menghadiri Gelar Agung Pecalang Bali yang dipimpin langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, bersama jajaran Forkopimda Provinsi Bali.
Suasana kegiatan berlangsung khidmat namun penuh semangat kebersamaan. Gubernur Koster berdiri di tengah barisan pecalang, menyatukan suara dan tekad dengan yel-yel perjuangan.
“Pecalang Bali! Bali Aman! Bali Aman! Bali Aman! Merdeka!” serunya lantang. Ribuan pecalang serentak menggemakan pekikan tersebut, menciptakan atmosfer yang penuh energi, menggema hingga sudut-sudut lapangan.

Baca Juga : demonstrasi Anarkis, Gubernur Koster dan FKUB Bali Ajak Warga Bersatu Jaga
Pernyataan Sikap: Tolak Aksi Anarkis, Jaga Bali Tetap Kondusif
Acara akbar ini turut dihadiri Ketua Majelis Desa Adat Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, serta berbagai tokoh adat dan agama.
Dalam pernyataannya, pecalang se-Bali menegaskan sikap menolak keras segala bentuk aksi demonstrasi yang berpotensi menimbulkan kericuhan atau tindakan anarkis, terlebih setelah mencuat informasi mengenai adanya rencana aksi pada tanggal 1 September 2025.
“Tanah Gumi Bali adalah tanah kelahiran, tempat hidup, dan ruang membangun kehidupan yang sejahtera serta bahagia secara niskala-sekala
Sinergi Pecalang dan Aparat Negara
Selain itu, pecalang menyatakan siap mengawal kesucian dan ketenteraman Pulau Dewata, baik dari sisi sekala (lahiriah) maupun niskala (spiritual). Mereka menyatakan dukungan penuh terhadap aparat TNI-Polri dalam menjaga stabilitas keamanan.
Pecalang juga meminta aparat bertindak tegas dan terukur terhadap siapa pun yang berusaha mengganggu ketertiban dan merusak harmoni masyarakat Bali.
“Keamanan Bali bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi menjadi kewajiban moral dan spiritual seluruh masyarakat adat.
Dalam sambutannya, Gubernur Wayan Koster kembali menegaskan bahwa Bali adalah tanah suci yang memiliki nilai spiritual tinggi dan harus dijaga bersama. Harmoni yang terjaga selama ini menjadi daya tarik dunia terhadap Bali, dan tidak boleh dirusak oleh tindakan anarkis yang bisa mencederai nama baik Pulau Dewata.
“Bali adalah rumah bersama, tanah yang diwariskan leluhur. Kita tidak boleh memberikan ruang sedikit pun bagi tindakan anarkis. Pecalang, pemerintah, aparat, dan masyarakat harus satu suara menjaga kedamaian ini,” tegas Koster.
Tekad Bersama: Bali Aman, Damai, dan Harmonis
Gelar Agung Pecalang Bali ini bukan hanya menjadi ajang konsolidasi, tetapi juga momentum memperkuat tekad kolektif seluruh elemen masyarakat adat untuk menjaga stabilitas Bali. Ribuan pecalang yang hadir menjadi simbol komitmen bahwa keamanan dan kedamaian di Pulau Dewata bukan hanya jargon, melainkan tanggung jawab bersama.
Dengan suara bulat, ribuan pecalang menyatakan bahwa mereka akan terus menjadi garda terdepan dalam menjaga ketertiban dan kesucian Bali. Pesan kuat pun mengemuka dari Renon: Bali tetap aman, damai, dan harmonis—tanpa ruang untuk anarkisme.
















